Satu tahun sudah aku tidak bertemu denganmu. Tidak lama
memang,tapi aku sungguh sedang mengharapkan kehadiranmu. Sudah lama ku
mengenalmu,tapi sungguh aku jauh tidak mengenal diriku terhadapmu jika rasa ini
muncul.Aku merindukan senyummu, aku merindukan segala tentangmu.
Empat tahun
yang lalu, saat sebuah keputusan tak
terduga harus kuterima aku tau ini semua akan terjadi. Aku tau rasa seperti ini akan muncul dan mengganggu
nyenyaknya tidurku, akan membuatku berharap dan terus berharap. Dia,lelaki yang
bisa membuatku terlalu dini untuk mengambil keputusan. Aku putuskan menunggunya
kembali dengan menyajikanku cinta seutuhnya.
“Suatu saat nanti, aku akan kembali dan akan terus
berada di dekatmu. Percayalah denganku.” Ucapan tiga tahun lalu masih terekam
jelas di benakku. Senyum dan tatapan matanya membuatku percaya, bahwa ia akan
menepati janjinya. Ruddi, ia memutuskan untuk bekerja di pulau sebrang dan
meninggalkanku saat aku sudah sangat mencintainya.
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku..
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta,
Lama ku jalani hubungan ini, kebahagiaan selalu muncul
di selarasa rinduku terhadapnya.
“Apa kau sudah yakin denganku, Rud ?” tanyaku. Aku
menggenggam handphoneku erat. Aku takut jawabannya tidak sesuai
dengan yang ku harapkan. Di sebrang, Ruddi
tidak menjawabku, “Ruddi?”
“Ya,hm, tadi tanya apa?” Ruddi bertanya kepadaku.
“Apakamu sudah yakin denganku?” aku mengulanginya,
“Maksudmu?”Ruddi belum sepenuhnya mengerti. Aku tidak
menjawab, aku memberinya kesempatan untuk mendalami lebih jauh pertanyaanku.
Lama Ruddi terdiam, akupun begitu.Aku yakin Ruddi mengerti maksudku.
“Akutau kau cerdas, pertanyaan singkat itu akan begitu
mudah kamu jawab.” Aku memancingnya. Aku mengenal Ruddi, dia seorang yang
memiliki komitmen yang kuatdalam menjalani
berbagai hal, tidak terkecuali hubunganku dengannya, tapi akuhanya butuh sebuah
keyakinan.
“Dari awal sudah ku katakan, aku yakin dengan semua
keputusanku. Jangan terus kau mengulangi pertanyaan ini.” Jawabnya. Sejujurrya,
jawaban ini tidak sesuai dengan harapanku. Walaupun begitu, aku tetap
mempercayai Ruddi sudah yakin akan diriku.
Kau tak akan mengerti bagaimana lukaku,
karena cinta tlah menyembunyikan pisaunya,
“Lupakan aku.” Itu kalimat terakhir yang ku ingat. Dua
jam yang lalu, saat Ruddi berusaha membunuh cinta dan rasa cintaku padanya. Aku
menekan nomor hp Ruddi,aku harus menghubunginya dan menanyakan mengapa ia
begitu saja memintaku untuk melupakannya.
“Ruddi,”aku memanggilnya saat suara yang sudah sangat
ku kenal mengangkat telponku,“kenapa? Aku, aku salah apa?” tanyaku bergetar.
Lagi-lagi Ruddi terdiam. Aku telah berusaha menelaah kekeliruan yang telah ku
lakukan kepadanya.
“Kau tau, rasa cintamu membuatku sesak.” Jawabnya.
“Maksudmu?”
“Aku tau, kau sangat mencintaiku, kau memintaku untuk
memberikan rasaku seperti yang kau mau. Pernahkah kau berfikir dan
mengizinkanku untuk memberikan rasa cintaku dengan caraku sendiri?” Ruddi
menaikan suaranya. Aku terdiam, dadaku sesak mendengarnya, “kau tau, aku di
sini berusaha untukmu. Aku butuh waktu untuk merintis semua tanpa ada kekangan
darimu.”
Aku mulai mengerti. Selama ini aku memang terlalu
cemburu akan waktu pekerjaannya yang berlebihan. Amarah selalu muncul saat ia
sibuk dengan pekerjaannya dan melupakanku di sini.
“Lupakanaku. Aku tidak bisa menjalani cinta dengan genggaman
erat yang menyakitkan seperti ini
Tiara.”
“Tuuuut…” Ruddi mematikan
teleponnya. Ia meningalkanku dengan rasa hancur yang teramat dalam.
Membayangkan wajahmu adalah siksa,
kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan,
Aku merindukan suaramu Ruddi. Aku merindukan ucapanmu
saat emosiku meningkat. Dulu, rasa ini begitu indah, namun entah mengapa aku
begitu sakit membayangkan wajahmu kali ini. Haruskah aku terus menangis seperti
ini?Atau, haruskah aku benar-benar melupakanmu seperti yang kau pinta?
“Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Ruddi…”
satu pesan singkat kukirimkan ke nomronya. Tidak ada balasan. Aku tetap
menunggunya. Perasaan cintaini, sudah ku yakinkan untuknya.
“Yakinkan dulu dirimu untuk mencintaiku dengan tulus.
Yakinkan hatimu bahwa aku mencintaimu dengan caraku.” Sebuah pesan balasan dari
Ruddi masuk. Aku menangis membacanya, menyadari betapa egoisnya diriku selama
ini.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku,
Apabila aku dalam kangen dan sepi,itulah berarti
Aku tungku tanpa Api…
Kini, aku akan memperbaiki semua perasaanku
terhadapnya.Hubungan ini, hubungan yang ku jalani bersamanya bukan sebuah
hubungan semu.Tidak akan ku biarkan keegosianku meracuni rasa cintaku padanya.
Aku yakin, Ruddi masih memiliki perasaan yang sama sepertiku, hanya saja ia
memberiku kesempatan untukku memperbaiki semua.
“Ruddi,sungguh, aku tanpamu bagai tungku tanpa
api.."

Segera bergabung di www,dompetpoker,net
ReplyDeleteBonus Deposit Member Baru 10ribu
Bonus Deposit Harian 2% Tanpa Batas
Bonus Rollingan 0,3%
Bonus Jackpot Tambahan 10%
Bonus Referral 10%
Minimal Deposit 10.000
Minimal Withdraw 20.000
Untuk informasi lebih lanjut hubungi kami
BBM: DC92F16D
WA : +6282168285188