Showing posts with label Cerita horor. Show all posts
Showing posts with label Cerita horor. Show all posts

Tuesday, February 20, 2018

cerita horo II Alelna 4



Ketika aku memasuki ruangan yang aku sendiri tak tau ruangan apa itu, aku sadar bahwa aku tidak lagi didalam alamku sendiri, terkadang manusia bisa masuk kedalam alam yang berbeda dalam waktu sekejap tanpa ia sadari.

Aku mulai mencium bau anyir yang sangat menyengat, selain itu juga bau daging busuk yang benar-benar tidak sedap. Rasanya aku ingin muntah, tapi ku tahan. Karena aku ingin menyusuri seluruh lorong yang ada dalam ruangan ini.



Aku mulai memasuki sebuah ruangan aneh, mungkin itu adalah kamar Alena, karena di pintu itu tertulis Alena’s room. Aku coba masuk, dan.. tidak ada yang aneh disana, hanya sebuha kursi goyang di pojok ruangan dan.. yah, Alena terduduk disana membelakangiku, Tapi.. bukankah Alena tadi sedang bermain diluar bersama Bulgigo?? Ah masa bodoh!! aku coba mendekat dan ku beranikan untuk menyentuh pundaknya setelah ku rasa Alena tidak mendengar panggilanku ketika aku memanggilnya berulang-ulang tadi.



“Alena.. ini aku Sava, tetangga sebelah rumahmu. Kenapa kamu hanya diam ? aku hanya ingin sedikit tahu tentang kehidupanmu yang terlalu misterius menurutku ‘’ Sayangnya Alena hanya diam.

Tapi kemudian Alena membalikkan badannya dan membuatku terkaget-kaget setengah mati, hampir saja aku tak percaya kalau Alena ternyata hanya memiliki 1 mata yang besar di kepalanya. Dan ia tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang hitam mengeluarkan bau busuk.

Aku penasaran dan bertanya, “Siapa kamu? Alena tidak seperti ini. Alena adalah gadis kecil yang cantik dan tidak kotor seperti dirimu”

Sayangnya Alena hanya tertawa kecil dan berlari keluar kamarnya, aku berniat untuk mengikuti Alena dari belakang, ku ikuti setiap langkahnya. Dan ia… seperti mengambang di udara, bulu kudukku seketika itu juga merinding hebat. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini??



Ku ikuti terus langkahnya hingga ia berhenti di sebuah ruangan yang sangat besar. Sepertinya ini ruang makan, tapi buat apa ruang makan sebesar ini?? Bukankah di rumah ini hanya ada Alena dan Nyonya Meri saja??

Alena terus berjalan seolah menunjukkan padaku apa yang sebenarnya terjadi, ia duduk di sebelah kanan tepat di sebelah kursi utama. Aku masih memandanginya dari jarak yang lumayan dekat, di kursi utama itu aku melihat seorang wanita berambut hitam legam yang panjang, hampir sekaki panjangnya, apa itu benar Nyonya Meri?? Lalu kenapa ia hanya menunduk?? Sesaat setelah pikiranku bertanya-tanya Nyonya Meri mulai menggerakkan kepalanya, sepertinya ia akan menatapku, yah aku akan melihat wajah Nyonya Meri yang asli saat yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini.



Tapi…. Ya Tuhan, aku memekik tertahan melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Apa benar ini Nyonya Merie yang selama ini di bicarakan tetangga-tetanggaku?? Dia.. dia tidak memiliki wajah, mukanya rata tanpa mata, hidung dan bibir. Ingin sekali aku lari sekencang mungkin meninggalkan rumah misteri ini, tapi kembali ku ingat bahwa ini adalah sebuah misi, seorang detektif tidak boleh takut dengan apapun dan bahkan harus merelakan nyawanya sendiri untuk sebuah penelitian. Untung aku tidak lupa sedari tadi aku masuk ruangan, kamera kecil yang terpasang di kerah bajuku ini telah menyala. Kini aku bisa merekam semuanya dan aku akan menyebar luaskan berita mengenai keluarga misterius ini.


cerita sebelumnya...

Wednesday, February 14, 2018

Cerita horor || Alena 3

Hari ini adalah hari minggu, seperti biasanya aku tetap mandi pagi, jogging, dan seterusnya. Tak lupa aku juga terus memantau rumah Alena, tapi tidak ada gerak gerik yang mencurigakan.

Hingga sore menjelangpun aku tak melihat satupun dari keluarga Alena yang keluar rumah, bagaimana cara mereka bertahan hidup yah ?? apa diam-sdiam mereka keluar rumah pada malam hari tanpa sepengetahuan siapapun ?? Ah.. sepertinya tidak mungkin.



Aku harus masuk langsung kedalam rumah itu.. yah aku harus masuk untuk memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada rumah besar Alena. Aku akan mengatur strategi dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kesana tanpa ada yang menyadarinya.



***



Yah.. dan hari itu telah tiba, hari selasa..

Pagi saat aku akan berangkat kuliah, aku melihat Alena bersama anjingnya Bulgigo di pekarangan rumah, aku hanya melihatnya dari kejauhan saja karena aku masih terlalu paranoid dengan mata merahnya. Aku sempat bertanya-tanya mengapa ia tak berangkat sekolah seperti biasanya ?? lalu aku melihat Eleea teman sekolah Alena yang juga tak memakai seragam sekolah seperti biasanya, yang kebetulan ia lewat depan rumahku, aku segera menghampirinya dan bertanya pada Eleea.

"Eleea, kenapa kamu tidak pergi sekolah ?? bukankah ini hari selasa ?? "

"Iyah, tapi sekolah kami sengaja di liburkan" Jawab gadis lugu itu.

"Kenapah ??"

"Aku tidak tahu", Kemudian Eleea berlalu.



Aku melihatt Alena membuka pintu samping rumahnya yang selama ini jarang di buka, Alena seperti mengambil sesuatu. Mungkin itu mainannya, tapi aneh anak kecil biasanya suka bermain boneka dan semacamnya, tapi Alena memainkan sebuah….. yah Jelangkung, dan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa boneka jelangkung itu bisa bergerak.



Tapi aku mencoba memfokuskan kembali niatku beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumah Alena, ini kesempatan, saat Alena sedang asyik bermain dengan Bulgigo dan mainan anehnya itu aku akan masuk kedalam rumah Alena. Meski aku agak ragu karena penciuman seekor anjing itu sangat kuat. Okeh, hari ini sepertinya aku harus mengorbankan kuliahku dulu. Never mind lah yang penting misteri ini terungkap.



Diam dan mengendap-endap aku mulai memasuki rumah Alena, ini adalah saatnya aku membongkar semua rahasia besar ini.

Dan kini aku telah berada dalam rumah Alena, gadis cilik itu. Awalnya aku memang tidak melihat sesuatu yang aneh dalam rumah ini, semuanya normal seperti rumah-rumah mewah pada umunya yang memiliki kursi dan meja mewah. Aku terus melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada dalam rumah ini, dan.. aku mulai menemukan suatu keanehan. 


cerita sebelumnya...

Cerita horor || Alena 2

Aku tidak pernah melihat Nyonya Meri sebelumnya, ibu Alena. Meski hanya untuk sekedar keluar dari rumah. Dan yang aku tau dari beberapa tetanggaku, Alena itu terlahir tanpa Ayah, yah mungkin saja memang ibunya dulu bermain dengan beberapa laki-laki bajingan dan akhirnya lahirlah Alena tanpa ayah.

Tapi tidak, perkiraanku salah, Nyonya Meri adalah wanita yang tidak pernah keluar rumah, menghabiskan seluruh masa remajanya di dalam rumah semenjak kematian kedua orang tuanya  25 th yang lalu, Saat itu Nyonya Meri berusia 15 tahun. Dan saat berusia 28 tahun tiba tiba Nyonya Meri melahirkan seorang bayi perempuan yaitu Alena. Padahal, ia tidak pernah keluar rumah selama 25 tahun belakangan itu, ada yang mengira bahwa itu adalah anak dari penjaga rumah Nyonya Meri sendiri, tapi setelah di lihat Alena tidak ada mirip-miripnya dengan Tuan Boutros penjaga rumah Nyonya Meri, lalu bagaimana ia menghidupi keluarganya selama ini, jika memang benar Nyonya Meri tidak pernah keluar rumah ??

Ah.. aku sendiri masih penasaran dan berminat ingin membuka rahasia besar keluarga Alena meski terkadang mamahku selalu mengalihkan ketika aku bertanya tentang Nyonya Meri dan keluarganya. Aku tau semua cerita itu dari tetangga sebelah barat rumahku, karena sebenarnya aku bukan penduduk asli Moskow, aku pindak dari Irlandia beberapa tahun yang lalu. Dan perlu kalian ketahui, aku belum pernah bertemu dengan wajah asli Nyonya Meri. Aneh bukan ?? Sedangkan aku sudah pindah kesini sejak 4 tahun yang lalu.

Malam ini aku tetap mencoba untuk menutup mataku, meski besok adalah hari libur, tapi aku tetap memiliki jadwal padat sejak pagi. Membantu mamah di rumah, hingga mengerjakan beberapa tugas kuliah yang masih menumpuk.

Dan sekitar 2 jam kemudian aku baru terlelap dalam tidur, sayangnya 1 jam kemudian mamahku harus mengetuk-ngetuk pintu kamarku karena jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ah.. Ssiall, aku hanya tidur 1 jam semalaman. Aku memang sengaja membuat perjanjian dengan mamahku hari ini untuk bangun pagi, berolahaga dan membersihkan pekarangan rumah yang sudah mulai kotor. Ini kesempatanku untuk memperhatikan rumah Alena sejak pagi, siapa tahu aku menemukan beberapa petunjuk.

***

Ketika aku berolahraga pagi dan melewati depan rumah Alena, aku melihat sosok bayangan seorang laki-laki yang tinggi besar dan sepertinya berambut agak panjang, aku menyebutnya laki-laki karena bayangan tubuh itu tinggi besar. Aku penasaran siapa bayangan itu ?? tidak mungkin jika ku jawab Tuan Boutros, sedangkan yang aku tau Tuan Boutros badannya sudah agak membungkuk karena di makan usia. Aku coba bertanya keanehan itu pada mamahku tapi mamah selalu mengatakan tidak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali Nyonya Meri, dan anaknya Alena.

Aku sedikit percaya meski masih terasa ganjil, karena bagaimanapun juga mamahku pernah bertemu dengan Nyonya Meri meski cuma sekali selama 4 tahun kami disini, dari cerita mamahku sih Nyonya Meri itu adalah wanita yang sangat cantik, kulitnya putih mulus dan rambutnya hitam panjang, hanya saja.. wajahnya terlihat agak pucat dan seperti kelelahan. Ada apa dengan Nyonya Meri ??

Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, setelah berlahraga dan beakfast aku segera mandi dang anti baju untuk membersihkan pekarangan rumah seperti perjanjianku kemaren dengan mamah.

Di tengah-tengah membersihkan halaman rumahku, aku melihat Tuan Boutros keluar dari gerbang rumah Alena. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tanpa seizin mamah aku langsung lari menghampiri Tuan Boutros.



“Selamat pagi Tuan Boutros, senang sekali bisa bertemu dengan anda” aku coba mengajaknya bicara dengan senyum merekah di bibirku, sayangnya Tuan Boutros terlihat sangat dingin.

“Selamat pagi Sava, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalmu kecuali hanya sebuah nama” kemudian ia berlalu begitu saja. Ah.. sial!! Mengapa orang-orang yang ada dalam keluarga ini sangat aneh, tidak Nyonya Meri, Alena, Tuan Boutros atau bahkan anjingnya Bulgigo.



Dari halaman rumah, terdengan suara mamah memanggilku, memecahkan lamunanku yang mulai curiga kembali dengan kehidupan Alena yang sebenarnya.

“Iya mah, Sava kembali” Aku segera berlari kembali ke rumah.

“Apa yang kamu lakukan barusan dengan Tuan Boutros??” Mamah sepertinya tidak suka aku berbicara dengan Tuan Boutros, tapi sayangnya mamah tidak mengungkapkan alasan yang masuk akal.

“Aku hanya menyapanya biasa kok mah, memangnya kenapah??”

“Ah.. tidak apa-apa. Lain kali kamu tidak usah menyapa siapapun dari keluarga Nyonya Meri, bahkan Tuan Boutros atau anjingnya sekalipun”

“Memangnya kenapa mah?? Aku kan hanya sekedar say hello, lagian sudah 4 tahun kita pindah ke moskow tapi kita sama sekali tidak mengenal mereka, padahal kita tetanggaan mah. Keluarga mereka aneh ya mah?? Kira-kira……….” Belum ku teruskan ucapanku mamah segera memotong pembicaraanku.

“Sudahlah, jangan banyak bicara, kamu tidak perlu tahu banyak hal tentang Alena gadis cilik itu dan keluarganya. Itu tidak penting, yang penting itu kamu harus kuliah yang rajin”

“Tapi mah, mereka itu….”

“Cukup Sava, mamah membenci kamu yang terus membahas kecurigaan dan keingintahuanmu itu. Mamah peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba ikut campur dalam urusan keluarga Alena”



Aku hanya bisa diam, baru kali ini mamah semarah itu. Kini kecurigaanku tidak hanya pada Alena kecil dan keluarganya, tapi juga pada mamahku sendiri. Apa yang sebenanya terjadi pada mamahku sehingga ia sampai marah seperti itu ??



Sudahlah, kuteruskan kembali memotong rumput hingga tamanku terlihat indah kembali, setelah itu aku cuci tangan dan kembali lagi ke kamar. Inilah saatnya aku berfikir dan mencoba untuk menjadi seperti apa yang aku inginkan. Detektif.. yah. Aku akan mengupas sendiri masalah ini, kecurigaanku selama ini pada Nyonya Merie, pada Bayangan laki-laki tinggi besar, pad Alena si mata merah, dan pada mamahku sendiri yang tiba-tiba marah tidak jelas saat aku menghampiri Tuang Boutros tadi.



*Bersambung*
cerita sebelumnya...

Cerita horor || Alena 1

KISAH SAFA MUARA


Gadis cilik itu bernama Alena, yah.. Alena, jika di lihat sekilas gadis itu memang tidak berbeda sama sekali dengan gadis-gadis cilik pada umumnya yang masih duduk di bangku SD. Yang setiap pagi harus berangkat sekolah dan pulang siang, memakan roti selai kacang pada musing dingin dan bermain dengan anjing kesayangannya setiap ia pulang sekolah. Tapi menurutku Alena berbeda, sangat berbeda. Dia memiliki.. mata merah. Mungkin memang terlihat aneh, atau bahkan hanya Saya sendirilah yang menyadari mata merahnya itu. Entah karena tidak ada yang memperhatikannya atau memang mata merahnya itu hanya di tunjukkan padSaya ?? entahlah. Yang pasti terkadang Saya merasa sedikit merinding ketika menatap matanya, oleh karena itu Saya enggan menatap matanya terlalu lama. Mungkin juga terlihat sangat konyol saat seorang mahasiswa seperti Saya harus takut dengan sorot mata anak SD. Tapi.. itulah yang Saya rasakan.



Dan malam ini, Alena benar-benar berhasil membuatku tidak bisa tidur. Ini karena kejadian tadi sore saat tiba-tiba ia bermain dengan anjingnya di pekarangan rumah. Tidak biasanya Alena bermain dengan anjingnya sore hari, ia selalu bermain dengan Bulgigo anjing kesayangannya itu siang hari ketka ia pulang sekolah. Sedikit cerita tentang Bulgigo, Saya juga sebenarnya agak paranoid jika menceritakan tentang bulgigo. Mungkin karena Saya di besarkan dari keluarga yang tidak begitu menyukai anjing pada umumnya, Bulgigo adalah anjing berwarna hitam legam yang ukuran tubuhnya bisa di bilang sangat besar di banding anjing-anjing tetanggSaya yang lain, bahkan ketika Alena membungkuk di sebelah anjingnya ia terlihat lebih kecil daripada bulgigo. Bulgigo juga memiliki taring yang panjang dan gigi agak kotor, ekor yang panjang mendongak keatas, dan terkadang aumannya seperti serigala. Terkadang ku berfikir, Apa gadis cilik seperti Alena itu tidak tSayat dengan sosok anjing yang menyeramkan seperti itu?? Hanya membayangkan saja terkadang Saya ngeri.



Kembali lagi ke topik semula, yah.. tadi siang saat Alena bermain dengan bulgigo. Tepat sekali bersamaan dengan Saya pulang kuliah, dengan mengendarai sedan kesayanganku, sebenarnya Saya tidak berminat sama sekali untuk melihat Alena dan anjingnya kerena Saya terlalu capek dan ingin segera beristirahat, tapi Saya merasa ada

yang  memperhatikanku sejak tadi. Setelah Saya melhat sekelilingku, tidak ada siapa-siapa disana kecuali Alena dan anjingnya Bulgigo.

Ingin sekali Saya menghindari tatapan mata merahnya yang aneh, tapi kali ini Saya seperti terbiyus. Saya tidak bisa mengalihkan pandanganku hingga tubuhku gemetar hebat, bulu kudukku berdiri, Saya merasa sore ini udara sedang tidak bersahabat hingga menimbulkan aura mistis di kulitku. Tatapan itu menurutku cukup lama, 5 menit. Sebelum akhirnya teriakan mamahku dari dalam rumah membuyarkan biyusan mata merah Alena sore itu.



“Iyah mah, Saya pulang” Saya segera lari menghampiri mamahku dengan ribuan pertanyaan di otakku, apa yang barusan gadis cilik itu lakukan pada Saya??

“Kamu lapar sayang? Mamah sudah membuatkan biskuit teddy kesukaanmu” Mamah selalu membuatkan biskuit teddy untukku setiap hari jumat menjelang liburan hari sabtu dan minggu. Ayolah mah, anakmu ini sudah kuliah, ia sudah dewasa, dan sudah tidak suka lagi dengan biscuit teddy. Tapi, ah.. yasudahlah, jika ini membuat mamah bahagia, akan Saya lakukan.

***

Dan.. yah. Itulah sebab mengapa malam ini Saya tidak bisa tidur. Terbayang mata merah Alena. Saya semakin penasaran dengan kehidupan Alena yang sebenarnya, karena  diam-diam Saya memperhitikan gerak-gerik keluarganya, atau memang hanya Saya saja yang sebenarnya terlalu tertarik untuk mengetahui misteri keluarga Alena ??



*Bersambung* 
Lanjutkan membaca...

misteri

Gelap! Elsa tak dapat melihat apapun selain warna hitam. Elsa bingung akan keberadaannya sekarang. Tangannya terus menjulur ke depan berusaha mencari pegangan ataupun dinding yang dapat dipakai sebagai pemandu dalam kegelapan.





Pluk! Kaki Elsa menginjak sesuatu yang cair dan lengket. Elsa mengumpat pelan. Saat itu juga, tangannya juga berhasil memegang sesuatu seperti dinding. Tapi terasa begitu dingin dan berlendir ketika tersentuh tangannya. Walapun merasa jijik, Elsa terus meraba dinding itu berharap menemukan saklar lampu.



Klik!Sebuah lampu menyala terang di tengah ruangan itu. Elsa terpaksa menutup matanya untuk menghindari silaunya nyala lampu itu. Setelah terbiasa dengan cahaya, Elsa menyapukan matanya mengelilingi sudut kamar itu.




Dinding yang berwarna hijau karena lumut yang berselaput lendir membuat perut Elsa terasa mual. Lalu Elsa melihat tangannya yang tadi meraba dinding itu. Lumut dan lendirpun mengotori tangannya. Elsa mundur perlahan menjauhi dinding yang menjijikkan itu.



Pluk! Kakinya kembali menginjak sesuatu yang terasa cair dan lengket. Perlahan, Elsa melihat ke arah kakinya yang menginjak sebuah benda berwarna merah muda dan coklat. Serta... DARAH!





"Aaaaarrrrggghh!" Elsa berteriak ketakutan ketika menyadari bahwa benda yang Elsa injak tadi adalah kulit manusia. Bau anyir segera menusuk hidungnya. Elsa berlari menuju satu-satunya pintu yang ada di ruang itu.





"Huh... Huh... Huh..." nafas Elsa memburu begitu Elsa berhasil keluar dari kamar yang menjijikkan. Tapi Elsa heran, ketika Elsa menjumpai kamarnya setelah berhasil keluar.





"Apa ruangan tadi bagian dari kamarku?" tanya Elsa pada dirinya sendiri. Elsapun berbalik untuk melihat pintu tempat Elsa keluar tadi. Tapi pintu itu telah menghilang. Yang ada hanya dinding warna ungu bermotif tulip.





"Mama? Papa? Dimana kalian?" Elsa mencari orang tuanya keluar kamar. Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar. Elsa merasa rumahnya berbeda dari biasanya. 'Sejak kapan rumahku ada lorong yang suram dan gelap seperti ini?' tanya Elsa dalam hati.





Elsa menyusuri lorong panjang itu yang ternyata membawanya menuju dapur. Ada Papa dan Mamanya disana yang sedang duduk menghadap meja makan yang masih kosong. Dengan bahagia, Elsa menghampiri mereka.





"Mama! Papa! Aku merindukan kalian." ucap Elsa sambil memeluk Mamanya. Dingin. Elsa merasa tubuh Mamanya sangat dingin. Elsapun melepaskan pelukannya dan mundur menjauhi sosok yang ada di depannya.





Kedua sosok itu menoleh pada Elsa yang tengah ketakutan. Mereka menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang menghitam. Mata mereka jatuh satu-persatu ke lantai. Menggelinding hingga ke bawah kaki Elsa.





"Peluklah Mamamu, sayang! Hihihi...." ujar sosok itu yang membuat Elsa tak mampu untuk menggerakkan tubuhnya. Elsa terpaksa melihat kejaElsan yang membuatnya terasa mual.





Perlahan sosok itu melepaskan kulit manusia mereka hingga hanya terlihat daging berwarna merah muda dan berlendir. Jantungnya terlihat jelas saat berdetak. Hati, usus, ginjal, dan semua organ dalam dapat terlihat dengan jelas di mata Elsa.





Elsapun akhirnya tidak tahan dengan pemandangan di hadapannya. Elsa memaksakan diri untuk berteriak, sebelum akhirnya Elsa pingsan di depan makhluk menjijikkan itu.





***


"Aaaaarrrrggghh!"





"Hey, Elsa! Kau kenapa berteriak gitu di sini?" Tanya Maya.



"Ma... Maya?" Elsa mengedip-ngedipkan matanya karena tak percaya dengan apa yang baru saja Elsa alami. Elsa kini sedang berada di koridor kampus dengan Maya, sahabatnya. Semua mata menatap heran pada Elsa. Begitu juga dengan Maya. Elsapun menarik tangan Maya agar segera pergi dari tempat itu. Menghindari tatapan yang seolah menganggap dirinya gila.





Setelah sampai di ruangan kelas yang kosong, Elsa menceritakan apa yang baru saja Elsa alami. Maya memperhatikan setiap kata demi kata yang meluncur dari mulut Elsa dengan seksama tanpa sedikitpun memotong kalimatnya.





"Aku takut, Mar. Aku takut...." Elsa memeluk Maya yang membalas pelukannya.





Deg! Jantung Elsa terasa berhenti berdetak ketika menyadari Maya terasa begitu dingin. Sama saat Elsa memeluk Mamanya tadi malam. Elsapun melepaskan pelukannya dan mundur menjauhi Maya.





"Apa makhluk itu seperti ini, Elsa? Hihihi..." Maya menyeringai lebar. Peristiwa tadi terlihat lagi di depan matanya. Gumpalan daging merah muda mengalir ke kaki Elsa. Jantung yang masih berdetak terasa hangat menyentuh kulitnya.





"Tidak mungkin! Tolooong! Siapapun tolong aku!" teriak Elsa yang segera meninggalkan ruangan itu. Koridor terlihat sangat sepi. Tak ada orang lain lagi selain dirinya. Elsapun berlari menuju parkiran.





Perjalanan Elsa menuju parkiran terasa sangat lama. Tak seorangpun yang ia jumpai, bahkan Elsa semakin tidak mengenali tempatnya berpijak sekarang. "Dimana aku?" tanya Elsa lirih.





Elsa merasa begitu lelah dan tak dapat mempercayai apa yang Elsa alami. Elsa bersandar pada dinding. Menelungkupkan tubuhnya dalam Elsam. Elsapun menangis. Elsa ketakutan dalam kesendirian. Hingga akhirnya Elsapun tak sadarkan diri.





***





Kriiiiing.... Bunyi jam weker memekakkan telinga Elsa. Perlahan Elsapun membuka mata dan terbelalak ketika menyadari dimana dirinya sekarang. "Kamar? Bukankah tadi aku sudah ke kampus?" tanya Elsa yang kebingungan.





"Elsa? Kau sudah bangun , sayang?" tanya seseorang dari balik pintu. Elsa tahu siapa pemilik suara itu.





"Sudah, Maa." Jawab Elsa singkat. Suara langkah kaki terdengar menjauhi kamarnya. Elsapun bergegas menyambar handuk dan pergi mandi. Air dingin terasa segar membasahi tubuhnya.





Setelah semuanya siap, Elsa segera turun dan menghampiri orang tuanya di meja makan. Senyuman hangat mereka terasa menyejukkan hati Elsa. Mamanya mengambilkan selembar roti tawar dan mengoleskan selai coklat. Elsa menerima roti itu dan melahapnya dengan cepat.





"Berangkat bareng Dad atau mau bawa mobil sendiri lagi?" tanya Papa menawarkan.





"Bareng Dam aja. Elsa merasa kurang enak badan." ucap Elsa tak bersemangat. Orang tuanya tampak begitu cemas mendengar ucapan Elsa. Mamanya segera menempelkan tangannya pada kening Elsa.





"Ya sudah. Ayo berangkat! Dad tidak mau kamu sampai terlambat." ajak Papanya. Elsa hanya menurut dan memasuki mobil Impala Papanya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya Elsam. Elsa sMamak memikirkan mimpinya semalam.





Papa memperhatikan sikap Elsa yang tak seperti biasa. "Kau kenapa sayang?" tanya Papa dengan nada khawatir. Elsa menatap pada Elsa.





"Aku tak apa, Dad." lagi-lagi Elsa hanya menjawab singkat. Papanya semakin merasa khawatir dengan perubahan putri semata wayangnya itu. Dengan satu tangan Elsa mengusap rambut Elsa, sedangkan tangan satunya memegang kemudi.





"DAD! Awas!" teriak Elsa yang melihat seorang bayi di tengah jalan. Papanya segera memutar stir sehingga keluar dari jalan dan menabrak sebuah pohon.





***





Elsa membuka mata. Elsa masih berada di dalam mobil yang berasap. Tapi Elsa tidak menemukan Papanya di balik kemudi. Elsa mengumpat muak. Semua kejaElsan ini membuatnya bingung. Elsa tak bisa lagi membedakan antara mimpi dan kenyataan.





Elsa berusaha keluar dari mobil yang telah remuk itu. Tapi Elsa tak bisa menggerakkan kakinya yang terasa lumpuh. Elsapun berteriak untuk minta tolong. Tapi tak seorangpun menggubrisnya.





Seorang pria tua dengan pakaian serba hitam menuju ke arah Elsa. Elsa berdiri tepat di samping Elsa yang telah lemas. Alam mimpi telah menjeratnya hingga tak mampu lagi untuk kembali ke alam nyata. Pria itu menatap tajam pada Elsa.





"Siapa kamu?" tanya Elsa lemah.





"Aku Marco. Aku ditugaskan untuk menjemputmu ke alam akhirat." ucapnya menjelaskan. Elsa lalu membuat sebuah gambar bintang segienap ditengah lingkaran di atas tanah dan menyuruh Elsa berdiri di tengah gambar itu.





"Kau menipuku, hah? Aku tau itu Devil's trap, perlambang perangkap iblis. Sedangkan aku bukan iblis dan aku juga belum mati!" Elsa berteriak mengelak untuk masuk ke lingkaran itu.





Marco mendengus kesal, "Apa kau yakin bahwa kamu masih hidup?"





"Tentu saja!" jawab Elsa yakin.





"Ikut aku!" Marco memegang tangan Elsa dan menghilang dari tempat itu. Mereka muncul di ruang tengah Elsa yang telah disesaki oleh puluhan orang berpakaian serba hitam. Papa dan Mamanya menangis di tengah ruang itu menghadap tubuh yang terbujur kaku di depannya.





"Mama? Papa? Siapa yang meninggal?" tanya Elsa. Tapi mereka tak sedikitpun mengubrisnya. Air mata Elsa tak kuasa tertahan hingga membasahi pipinya.





Maya maju ke depan. Elsa duduk di sebelah mayat itu. Dengan perlahan, Elsa menyibakkan kain putih yang menutupinya.





Deg! Elsa tak mampu menarik nafas lagi ketika tahu siapa yang ada di balik kain itu. "Tidak! Tidak mungkin aku telah meninggal! Mama! Papa! Elsa disini. Apa kalian tak dapat melihatku?" Elsa histeris. Tapi tetap tak ada seorangpun menggubrisnya.





"Kau sudah mati, Elsa!" Marco kembali menyeret Elsa untuk meninggalkan tempat itu.





Elsa dibawa ke sebuah taman yang tampak indah. Taman itu membuatnya nyaman dengan Marco yang duduk di sampingnya





"Apa ini surga?" tanya Elsa. Tapi Marco tak menjawabnya. Matanya menerawang lurus ke depan. Sebelum akhirnya menoleh pada Elsa dan memperlihatkan sebuah seringai yang mengerikan.





***





"Aaaaarrrrggghh!" Elsa kembali terbangun di ruangan yang serba putih. Rumah sakit. Tapi Elsa terlalu lemah.





Elsa tak peduli lagi dengan apa yang Elsa hadapi. Elsa tak dapat lagi membedakan antara mimpi dan nyata. Elsapun memejamkan mata kembali dan tak berniat untuk terbangun lagi.





~selesai-


Kisah romantis || cerita tentang dia